http://www.makepovertyhistory.org New Pages: May 2010

Tuesday, May 04, 2010

I know this City from that TV Series!

Yep...

itu yang sempat saya rasakan waktu berjalan-jalan di NYC awal tahun 2004. Rasanya berbunga-bunga sekali bisa menjalani kota yang hanya sempat saya lihat di film-film dan serial TV macam Sex and the City...

Saking seringnya melihat detektif membeli 'hotdog dan kopi' di pinggir jalan, itu jadi hal pertama yang harus saya lakukan...Nonton di Broadway dan berteriak (untungnya saya masih waras :D ) di Times Square juga diagendakan.

Kemasan film itu sangat berhasil membangkitkan antusiasme saya dengan NYC. Saat membeli Hotdog dan Kopi rasanya saya menjadi bagian dari NYC, sekalipun kemudian kopinya saya buang setelah seteguk (rasanya gak jelas!). Keberhasilan mengemas kota ini tanpa oleh TV dan film merupakan bentuk branding yang sangat mudah dimengerti semua orang, namun sering tidak disadari oleh para manajer kota.

Berapa banyak dari kita yang mau mengenal Bangka Belitung sebelum munculnya Laskar Pelangi? Serial novel Andrea Hirata tentang pengalaman masa kecilnya menjadikan Bangka Belitung tenar, bahkan sekarang sudah ada 'paket tur Laskar Pelangi'!!

Sayangnya belum banyak film atau novel kita yang menjadikan kota-kota di Indonesia sebagai setting cerita mereka. Keluhan yang sama yang saya temukan di blog Tempo tentang hal ini.

Sekalipun demikian, ada saja film indie yang sudah melakukannya, seperti Cin(t)a dengan setting lembah Siliwangi di Bandung. Menonton film itu, rasanya kok ada saja sudut kota Bandung yang belum saya jalani.


Juga di era 80-an ada serial TV Indonesia berjudul Pondok Indah. Saya yang masih di Makassar saat itu sudah bisa membayangkan Pondok Indah seperti Beverly Hills 90210. Begitu kuat image yang terbentuk sehingga saat pertama kali pindah ke Jawa untuk bersekolah, saya nyaris tidak percaya saat bertemu dengan teman yang tinggal di Pondok Indah tapi penampilannya tidak se'wah' Wulan Guritno. :D

Pertanyaannya, apakah pernah pengelola perkotaan (baik itu pemkot maupun developer swasta) menyadari kekuatan ini?

Mengembalikan pencitraan kota tua, mengangkat sungai Cikapundung, melindungi Babakan Siliwangi dan jajaran kepulauan Spermonde di Makassar bisa saja menggunakan tangan para movie maker.

Mungkin menarik untuk mengumpulkan film dan novel yang mengambil setting kota-kota Indonesia sebagai koleksi...mungkin ada yang bisa memberi masukan?